Uning-uningan
Perlu ditambahkan bahwa dalam suatu pelaksanaan ritual lama pada umumnya hanya melibatkan orangtua meskipun ada diberi kesempatan muda-mudi berpartisipasi dengan acara Gondang Naposo. Pelaksanaan upacara bisa berhari-hari, mungkin tujuh hari. Ditengah-tengah waktu senggangnya para pemuda juga berlatih semacam ensembel disebut ‘uning-uningan’. Uning-uningan bukan termasuk ensembel untuk ritual tetapi lebih bersifat hiburan. Meskipun demikian dalam perkembangan selanjutnya disebut juga gondang yaitu Gondang Hasapi. Hasapi adalah kecapi yang memainkan melodi dalam uning-uningan. Ada juga penyanyi yang membawakan lagu-lagu kisah cinta, penderitaan, cita-cita dsb. Ensembel uning-uningan (gondang hasapi) terdiri dari alat musik :
1. hasapi (kecapi)
2. sarune getep (alat musik tiup dari kayu, lebih pendek dari sarune)
3. sulim (suling)
4. garantung (alat musik pukul dari beberapa kayu berbentuk pipih)
5. tulila
6. hesek
7. dll
Sebagai catatan penutup adalah kisah seorang tua bermarga Samosir, mantan pemain ‘opera tradisional’ Seni Ragam Indonesia (Serindo) yang seluruh hidupnya diabdikan sebagai pemain musik tradisional gondang dan uning-uningan. Ia mengeluh karena sering merasa dilecehkan pihak pengundang yang menawar upah jasa dengan harga sangat rendah dibanding dengan musik keyboard. Untuk menawar keyboard, orang Batak bersedia membayar diatas Rp 2 juta tapi untuk gondang dibayar kurang dari Rp 1 juta, malah Rp 700,000, padahal delapan pemain gondang itu seharian keringatan.! Bisa dibayangkan bahwa tanpa ada penghargaan dari orang Batak sendiri maka perlahan-lahan semua pargonsi akan beralih profesi dan punahlah gondang sabangunan itu.